SASTRA INDONESIA
Blog ini milik Arnindya Ayu Yovintasari, kelas 9E, nomor absen 03 tentang Sastra Indonesia
Minggu, 24 Februari 2013
Sabtu, 23 Februari 2013
unsur unsur puisi
UNSUR-UNSUR PUISI
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur-unsur puisi yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
1.Kata
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur-unsur puisi yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
1.Kata
Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi.
Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan
keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi
menjadi sebuah larik.
2. Larik
Larik (atau baris)
mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa
berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat.
Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat,
tapi pada puisi baru tak ada batasan.
3.Bait merupakan kumpulan
larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan
makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat
buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
4. Bunyi
Bunyi dibentuk oleh rima dan irama.
5. Rima (persajakan)
Rima adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait.
6. Irama
Irama (ritme) adalah
pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi.
Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut
dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan
bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena
sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata.
Dari sini dapat dipahami bahwa
rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya
dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek
musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak
didengar meskipun tanpa dilagukan.
7. Makna
Makna adalah unsur tujuan dari
pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan
pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi
disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
A. Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense):
Media puisi adalah bahasa.
Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus
bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling)
Rasa yaitu sikap penyair terhadap
pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan
rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair,
misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial,
kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis,
dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam
menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih
kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak
bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang
terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone)
Nada yaitu sikap penyair terhadap
pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat
menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan
pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada
pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat / tujuan / maksud (itention)
Sadar maupun tidak, ada tujuan
yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari
sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi)
Perwajahan yaitu bentuk puisi seperti
halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan
barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat
menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang
dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya
sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka
kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam
puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3) Imaji
Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata
yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan,
pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji
suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh
(imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat,
mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata Konkret
Kata konkret yaitu kata yang dapat ditangkap
dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini
berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata konkret “salju:
melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata
konkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup,
bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif
Bahasa figuratif yaitu bahasa berkias yang dapat
menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu
(Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi
prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna
(Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun
macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes,
ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis,
alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte,
hingga paradoks.
(6) Versifikasi
Versifikasi yaitu menyangkut rima, ritme, dan
metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah,
dan akhir baris puisi. Rima mencakup :
(1) Onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal : ng - yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.)
(2) bentuk intern pola bunyi
(aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang,
sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya (Waluyo, 187:92)
(3) pengulangan kata/ungkapan.
Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma
sangat menonjol dalam pembacaan puisi.
Jumat, 22 Februari 2013
cerpen
Unsur-Unsur Dalam Sebuah Cerpen
1. Tema
1. Tema
Yaitu
gagasan inti. Dalam sebuah cerpen, tema bisa disamakan dengan pondasi
sebuah bangunan. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa
pondasi. Dengan kata lain tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama
sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian
cerita; dasar tolak untuk bercerita.
Tidak
mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang
hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu
biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan
atau pandangan hidup si pengarang dalam menempuh kehidupan luas ini.
Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final,
tetapi ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan
akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.
Secara
tradisional, tema itu bisa dijelaskan dengan kalimat sederhana,
seperti:
1. Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan.
2.
Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka.
3. Cinta adalah
energi kehidupan, karena itu cinta dapat mengatasi segala kesulitan.
Cerpen
yang baik dan besar biasanya menyajikan berbagai persoalan yang
kompleks. Namun, selalu punya pusat tema, yaitu pokok masalah yang
mendominasi masalah lainnya dalam cerita itu. Misalnya cerpen “Salju
Kapas Putih” karya Satyagraha Hoerip. Cerpen ini melukiskan pengalaman
“aku” di negeri asing dengan baik sekali, tetapi secara tajam cerpen ini
menyorot masalah moral. Tokoh “aku” dapat bertahan dari godaan berbuat
serong karena pertimbangan moral.
2. Alur atau Plot
Yaitu
rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek
tertentu. Banyak anggapan keliru mengenai plot. Sementara orang
menganggap plot adalah jalan cerita. Dalam pengertian umum, plot adalah
suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan tertentu.
Rancangan tentang tujuan itu bukanlah plot, akan tetapi semua aktivitas
untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.
Secara lebih gamblang plot adalah sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam
menghadirkan ide dasar ( Aswendo Atmowiloto ).
Semua
peristiwa yang terjadi di dalam cerita pendek harus berdasarkan hukum
sebab-akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita,
tetapi menghubungkan semua peristiwa.
Dalam
cerpen biasanya digunakan plot ketat artinya bila salah satu kejadian
ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tak bisa
dipahami. Adapun jenis plot bisa disederhanakan menjadi tiga jenis,
yaitu:
- Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Contohnya: cerpen-cerpen Anton Chekov, pengarang Rusia legendaris, cerpen-cerpen Trisnoyuwono yang terkumpul dalam Laki-laki dan Mesiu, cerpen-cerpen Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulannya Kejantanan di Sumbing.
- Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus tergiang di telinga pembaca. Contoh, cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam, cerpen-cerpen Danarto dalam Godlob, dan hampir semua cerpen Guy de Maupassant, pengarang Perancis menggunakan plot berbisik.
- Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut. Contoh: cerpen Krawang-Bekasi milik Gerson Poyk, cerpen Bulan Mati karya R. Siyaranamual, dan cerpen Putu Wijaya berjudul Topeng bisa dimasukkan di sini.
Adapun
jika kita melihat sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka, plot
tertutup dan cempuran keduanya. Jadi sifat plot ada kalanya:
- Terbuka. Jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita, di samping masalah dasar persoalan.
- Tertutup. Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita. Contoh Godlobnya Danarto.
- Campuran keduanya.
3. Penokohan
Yaitu
penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata
hingga pembaca merasakan kehadirannya. Dalam cerpen modern, berhasil
tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan
citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan, yang didalamnya ada
perwatakkan sangat penting bagi sebuah cerita, bisa dikatakan ia
sebagai mata air kekuatan sebuah cerita pendek.
Pada
dasarnya sifat tokoh ada dua macam; sifat lahir (rupa, bentuk) dan
sifat batin (watak, karakter). Dan sifat tokoh ini bisa diungkapkan
dengan berbagai cara, diantaranya melalui:
- Tindakan, ucapan dan pikirannya
- Tempat tokoh tersebut berada
- Benda-benda di sekitar tokoh
- Kesan tokoh lain terhadap dirinya
- Deskripsi langsung secara naratif oleh pengarang
4. Latar atau Setting
yaitu
segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita.
Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema dan plot
cerita, karena latar harus bersatu dengan teman dan plot untuk
menghasilkan cerita pendek yang gempal, padat, dan berkualitas. Kalau
latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan
tema dan plot. Cerpen saya, Bayi-bayi Tertawa yang mengambil
setting khas Palestina, dengan watak, budaya, emosi, kondisi geografi
yang sangat khas Palestina tentu akan menjadi lucu jika settingnya
dipindah di Ponorogo. Jelas bahwa setting akan sangat menentukan watak
dan karakter tokoh.
5. Sudut Pandangan Tokoh
Diantara
elemen yang tidak bisa ditinggalkan dalam membangun cerita pendek
adlaah sudah pandangan tokoh yang dibangun sang pengarang. Sudut
pandangan tokoh ini merupakan visi pengarang yang dijelmakan ke dalam
pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pangan ini sangat erat
dengan teknik bercerita.
Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:
- Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
- Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
- Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.
- Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.
Majas
Majas adalah kiasan atau pengungkapan gaya bahasa yang dalam
pemakaiannya bertujuan untuk memperoleh efek-efek tertentu agar tercipta
sebuah kesan imajinatif bagi penyimak atau pendengarnya. Seorang
penulis sastra juga terkadang terkenal dengan tulisan-tulisan majas
dalam karyanya. Dalam hal ini seorang penulis sastra dalam menyampaikan
pikiran dan perasan, baik secara lisan dan tertulis kerap
menyampaikannya dengan bahasa majas yang khas.
Pada tulisan ini akan dipublikasikan maca-macam majas dan contohnya, juga turut akan dipublikasikan macam-macam majas dan pengertiannya yang tentunya akan menambah wawasan bagi bagi kita, seputar bahasa majas yang juga merupakan bagian karya sastra yang dipelajari dalam bidang studi Bahasa Indonesia.
Macam-Macam Majas dan Contohnya
Secara umum, majas terjadi dari 4 jenis yang masing-masing jenis majas tersebut juga memiliki sub bagian masing-masing. Berikut adalah jenis majas beserta contohnya dan juga sub-sub masing-masing dari ke-4 jenis majas tersebut.
A. Majas Sindiran
Majas Sindiran terdiri dari 3 sub bagian majas, berikut adalah penjelasanya dari masing-masing sub majas sindiran tersebut yang akan dipublikasikan beserta contohnya.
1. Majas Sarkasme
2. Majas Ironi
B. Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 8 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.
1. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pegertiannya untuk menyangatkan arti. Kata kunci dari majas hiperbola adalah melebih - lebihkan dan ciri utama dari majas hiperbola ini adalah terdapat kata atau kalimat yang sifatnya melebih - lebihkan dari kenyataan yang sebenarnya. Majas hiperbola merupakan sebuah majas yang melukiskan suatu hal dengan cara mengganti hal tersebut dengan kata - kata yang lebih hebat pengertiannya. Sedangkan tujuan dari majas hiperbola ini adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang yang membaca kalimat tersebut.
Contoh Majas Hiperbola: 1. harga bensin membumbung tinggi
8. Majas Alusio
Majas Alusio adalah majas perbandingan dengan menggunakan ungkaan pribhasa yang artinya sudah diketahui umum.
Contoh Majas Alusio: 1. Ah, dia itu tong kosong nyaring bunyinya.
D. Majas Penegasan
Majas Penegasan terdiri dari 5 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.
1. Majas Penegasan Retorik
Majas Penegasan adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh Majas Penegasan: 1. Mana mungkin orang mati hidup kembali?
2. Majas Simetri
Majas Simetri adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: 1.Ayah diam serta tak suka berkata-kata
3. Majas Tautologi
Majas Tautologi adalah majas penegasan yang meukiskan sesuatu dangan mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinonim) untuk mempertegas arti.
Pada tulisan ini akan dipublikasikan maca-macam majas dan contohnya, juga turut akan dipublikasikan macam-macam majas dan pengertiannya yang tentunya akan menambah wawasan bagi bagi kita, seputar bahasa majas yang juga merupakan bagian karya sastra yang dipelajari dalam bidang studi Bahasa Indonesia.
Macam-Macam Majas dan Contohnya
Secara umum, majas terjadi dari 4 jenis yang masing-masing jenis majas tersebut juga memiliki sub bagian masing-masing. Berikut adalah jenis majas beserta contohnya dan juga sub-sub masing-masing dari ke-4 jenis majas tersebut.
A. Majas Sindiran
Majas Sindiran terdiri dari 3 sub bagian majas, berikut adalah penjelasanya dari masing-masing sub majas sindiran tersebut yang akan dipublikasikan beserta contohnya.
1. Majas Sarkasme
Majas Sarkasme ialah majas sindiran yang terakasar langsung menusuk perasaan. Majas ini
biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh Majas Sarkasme: 1.Otakmu memang otak udang !
2. Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus !
Contoh Majas Sarkasme: 1.Otakmu memang otak udang !
2. Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus !
2. Majas Ironi
Majas Ironi adalah majas sindiran yang
melukiskan sesuatu dengan menyatakan sebalikanya dari yang sebenarnya
dengan maksud untuk menyindir orang. Majas ironi bertujuan untuk menyindir
seseorang. Majas ironi sebenarnya digunakan oleh penulis ata pembicara
untuk mencemooh suatu hal bahkan mencemooh diri mereka sendiri. Tidak
heran bila jenis majas ironi ini bisa kita temukan pada teks - teks
sastra yang sifatnya memprotes ataupun mencibir tentang suatu hal.
Contoh Majas Ironi: 1. Harum benar baumu sore ini !
Contoh Majas Ironi: 1. Harum benar baumu sore ini !
2. Indah nian buku raport-mu yang dihiasi dengan banyak angka merah.
3. Majas Sinisme
3. Majas Sinisme
Majas Sinisme adalah gaya sindiran dengan mempergunakan kata-kata sebaliknya seperti ironi tetapi kasar.
Contoh Majas Sinisme: 1. Muntah aku melihat perangaimu yang tak pernah berubah !
Contoh Majas Sinisme: 1. Muntah aku melihat perangaimu yang tak pernah berubah !
2. Tak salah lagi, kiranya dialah Profesor kita dalam perjudian.
B. Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 8 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.
1. Majas Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pegertiannya untuk menyangatkan arti. Kata kunci dari majas hiperbola adalah melebih - lebihkan dan ciri utama dari majas hiperbola ini adalah terdapat kata atau kalimat yang sifatnya melebih - lebihkan dari kenyataan yang sebenarnya. Majas hiperbola merupakan sebuah majas yang melukiskan suatu hal dengan cara mengganti hal tersebut dengan kata - kata yang lebih hebat pengertiannya. Sedangkan tujuan dari majas hiperbola ini adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang yang membaca kalimat tersebut.
Contoh Majas Hiperbola: 1. harga bensin membumbung tinggi
2. kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya.
2. Majas Metafora
Majas Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Majas metafora merupakan majas yang perbandingannya dilakukan secara implisit antara 2 hal yang berbeda. Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa majas metafora merupakan majas perbandingan yang dilakukan secara langsung karena tidak menggunakan kata pembanding. Ciri khusus dari majas metafora ini adalah tidak ditemukannya konungsi atau kata penghubung pada kalimat - kalimatnya. Ini berkaitan dengan pendapat bahwa majas metafora adalah majas perbandingan langsung. Kalimat - kalimat majas metafora ini banyak kita jumpai pada teks sastra seperti pada puisi, syair, dll
Contoh Majas Metafora: 1. Dewi malam telah keluar dari balik awan (dewi malam = bulan)
2. Majas Metafora
Majas Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Majas metafora merupakan majas yang perbandingannya dilakukan secara implisit antara 2 hal yang berbeda. Beberapa ahli bahasa menyatakan bahwa majas metafora merupakan majas perbandingan yang dilakukan secara langsung karena tidak menggunakan kata pembanding. Ciri khusus dari majas metafora ini adalah tidak ditemukannya konungsi atau kata penghubung pada kalimat - kalimatnya. Ini berkaitan dengan pendapat bahwa majas metafora adalah majas perbandingan langsung. Kalimat - kalimat majas metafora ini banyak kita jumpai pada teks sastra seperti pada puisi, syair, dll
Contoh Majas Metafora: 1. Dewi malam telah keluar dari balik awan (dewi malam = bulan)
2. Dibalik sifat garang Doni terdapat sebentuk hati yang sangat rapuh
3. Majas Simbolik
Majas simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda-benda lain sebagi pebandingan.
3. Majas Simbolik
Majas simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda-benda lain sebagi pebandingan.
Contoh Majas Simbolik: 1. Ia adalah seorang lintah darat (lintah darat = pemeras, pemakan riba)
2. Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian.
4. Majas Eufimisme
Majas Eufimisme adalah majas perbandingsn yang melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang lebih lembut untuk meggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang).
Contoh Majas Eufimisme: 1. Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah.
4. Majas Eufimisme
Majas Eufimisme adalah majas perbandingsn yang melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang lebih lembut untuk meggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang).
Contoh Majas Eufimisme: 1. Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah.
2. Orang ini berubah akal.
5. Majas Litotes
Majas Litotes adalah majas perbandingan yang melukiskan kedaan dengan kata-kata yang belawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
Contoh Majas Litotes: 1. Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
5. Majas Litotes
Majas Litotes adalah majas perbandingan yang melukiskan kedaan dengan kata-kata yang belawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
Contoh Majas Litotes: 1. Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
2. Kapan-kapan kalau ada waktu singgahlah di gubuk saya.
6. Majas Alegori
Majas Alegori adalah majas perbandingan yang memperihatkan satu perbandingan utuh; perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh. Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh Majas Alegori: 1. Hidup ini diperbandingkan dengan perahu yang tengah berlayar di lautan (suami : nahkoda, istri : juru mudi, gelombang : cobaan dalam kehidupan, tanah seberang : cita-cita)
7. Majas Alegori Personifikasi
Majas Alegori Personifikasi adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan memberitakan sifat-sifat manusia kepada mempunyai sifat seperti manusia atau beda hidup.
Contoh Majas Alegori Personifikasi: 1. Angin berbisik menyampaikan salamku padanya.
6. Majas Alegori
Majas Alegori adalah majas perbandingan yang memperihatkan satu perbandingan utuh; perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh. Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh Majas Alegori: 1. Hidup ini diperbandingkan dengan perahu yang tengah berlayar di lautan (suami : nahkoda, istri : juru mudi, gelombang : cobaan dalam kehidupan, tanah seberang : cita-cita)
7. Majas Alegori Personifikasi
Majas Alegori Personifikasi adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan memberitakan sifat-sifat manusia kepada mempunyai sifat seperti manusia atau beda hidup.
Contoh Majas Alegori Personifikasi: 1. Angin berbisik menyampaikan salamku padanya.
2. Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
8. Majas Alusio
Majas Alusio adalah majas perbandingan dengan menggunakan ungkaan pribhasa yang artinya sudah diketahui umum.
Contoh Majas Alusio: 1. Ah, dia itu tong kosong nyaring bunyinya.
2. Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945.
9. Majas Asosiasi atau perbandingan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama,
seperti, dan laksana.
Contoh Majas Asosiasi: 1. Semangatnya keras bagaikan baja.
2. Mukanya pucat bagai mayat.
9. Majas Metonimia
seperti, dan laksana.
Contoh Majas Asosiasi: 1. Semangatnya keras bagaikan baja.
2. Mukanya pucat bagai mayat.
9. Majas Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.
Contoh Majas Metonimia : 1. Di kantongnya selalu terselib gudang garam.
2. Setiap pagi Ayah selalu menghirup kopi kapal api.
10. Majas Sinidhoke
Sinekdokhe adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
a) Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
b) Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh Majas Sinidhoke :
1. Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
Contoh Majas Metonimia : 1. Di kantongnya selalu terselib gudang garam.
2. Setiap pagi Ayah selalu menghirup kopi kapal api.
10. Majas Sinidhoke
Sinekdokhe adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
a) Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
b) Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh Majas Sinidhoke :
1. Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
2. Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.
C. Majas Pertentangan
Majas pertentangan terdiri dari 4 sub jenis, yang diantaranya akan dijelaskan dibawah ini berikut beserta contoh-contohnya.
1. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Majas pertentangan terdiri dari 4 sub jenis, yang diantaranya akan dijelaskan dibawah ini berikut beserta contoh-contohnya.
1. Majas Antitesis
Majas Antitesis adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh Majas Antitesis: 1. Hidup matinya manusia ada ditangan Tuhan.
2. Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.
2. Majas Paradoks
Majas paradoks adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal sesungguhnya tidak karena objeknya bertentangan.
Contoh Majas Paradoks: 1. Hatinya sunyi tinggal di Kota Jakarta yang ramai.
2. Majas Paradoks
Majas paradoks adalah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal sesungguhnya tidak karena objeknya bertentangan.
Contoh Majas Paradoks: 1. Hatinya sunyi tinggal di Kota Jakarta yang ramai.
2. Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang sedang berlangsung ini.
3. Majas Kontradiksi Intermiris
Majas Kontradiksi Intermiris adalah majas pertentangan yang meperlibatkan pertentangan dengan penjelasan semula.
3. Majas Kontradiksi Intermiris
Majas Kontradiksi Intermiris adalah majas pertentangan yang meperlibatkan pertentangan dengan penjelasan semula.
Contoh Majas Kontradiksi Intermiris: 1. Semua murid kelas ini hadir, kecuali Hasan yang sedang ikut olympiade
2. Semua sudah siap kecuali Ani.
4. Majas Okupasi
Majas Okupasi adalah majas pertetangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan atau diakhiri dengan kesimpulan.
Contoh Majas Okupasi: 1. Merokok itu merusak kesehatan, tetapi si perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak.
4. Majas Okupasi
Majas Okupasi adalah majas pertetangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan atau diakhiri dengan kesimpulan.
Contoh Majas Okupasi: 1. Merokok itu merusak kesehatan, tetapi si perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak.
D. Majas Penegasan
Majas Penegasan terdiri dari 5 sub majas yang diantaranya dapat dilihat secara lengkap dibawah ini beserta contohnya masing-masing.
1. Majas Penegasan Retorik
Majas Penegasan adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
Contoh Majas Penegasan: 1. Mana mungkin orang mati hidup kembali?
2. Majas Simetri
Majas Simetri adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: 1.Ayah diam serta tak suka berkata-kata
3. Majas Tautologi
Majas Tautologi adalah majas penegasan yang meukiskan sesuatu dangan mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinonim) untuk mempertegas arti.
Contoh Majas Tautologi: 1. Saya khawatir dan was-was akan keselamatannya.
4. Majas Retorik
Majas Retorik adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh Majas Retorik: 1. Mana mungkin orang mati hidup kembali?
4. Majas Retorik
Majas Retorik adalah majas penegasan degan mempegunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh Majas Retorik: 1. Mana mungkin orang mati hidup kembali?
2. Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
5. Majas Simetri
Majas Simetri ialah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: 1. Ayah diam serta tak suka berkata-kata.
5. Majas Simetri
Majas Simetri ialah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
Contoh Majas Simetri: 1. Ayah diam serta tak suka berkata-kata.
2.
Demikianlah berbagai macam-macam majas beserta contohnya dan juga pengertiannya yang bisa dipublikasikan kepada teman-teman semuanya.Semoga bermanfaat...
Demikianlah berbagai macam-macam majas beserta contohnya dan juga pengertiannya yang bisa dipublikasikan kepada teman-teman semuanya.Semoga bermanfaat...
Langganan:
Postingan (Atom)